Terpahat Pesona Putri Pahang
Keanggunan paras
dan hati Sang Putri (dari negri seberang, Malaysia),
mengayunkan awan cinta Paduka Raja Iskandar Muda untuk berlabuh padanya, dan
Kutaradja menjadi saksi bisu,
tertegun diam seribu bahasa mengukir jejak-jejak cinta dua anak manusia.
Jauh sebelum
kita terpatri mencintai kota ini, bumi Nanggroe Aceh Darussalam yang saat ini kita
pandangi, telah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam. Disaksikan langit
dan bintang, sang Putri dan Kutaradja pun telah lebih dulu bersahabat dekat,
hingga beliau dikenal dengan sebutan Putroe Phang, yang berarti Putri dari
kerajaan Pahang.
Ternyata tak
hanya sebatas namanya yang mencair dengan lika-liku kehidupan singgasana saat
itu, bahkan kharisma Iskandar Muda yang mendampingi kekasih hati permaisuri
tercinta, tertohok membuktikan cintanya dengan menghiasi hari-hari Putri yang
rindu akan negrinya, dengan mendirikan sejumlah bangunan yang hampir mirip dengan arsitektur dari negri
Pahang, seperti Taman Putroe Phang, Gunongan sebagai tempat bermain Putri
ditemani dayang-dayang.
Kalau kita
pernah mendengar kisah Adam dan Hawa, Sulaiman dan Balqis, Rasulullah dan
Khodijah, Nobita dan Shizuka, serta masih banyak lagi yang lainnya yang menggetarkan jiwa dan
meneteskan air mata, kali ini ada yang berbeda dengan romansa cerita Iskandar
Muda dan Putroe Phang.
Seiring
bertaburan moment bersejarah yang hampir lekang oleh perhatian zaman, ternyata
masih ada anak negri yang menggali khazanah budaya. Bahkan aku sendiri hampir
terlena tentang gagapnya pengetahuan warisan budaya. Mungkin aku hanya lidi
yang layu tanpa orang-orang seperti mereka yang saling terus mengingatkan
Terharu anak
negri dapat melihat langsung bangunan kokoh bukti cinta mereka, ingin rasanya
bertanya langsung pada dinding-dinding yang berdiri tegar meski tertiup angin,
panasnya terik, dan dinginnya rintik-rintik yang menghampiri. Ingin rasanya
segera mewawancarai rumput-rumput yang bergoyang, yang pastinya merindukan suasana
yang dulu pernah ada. Dan ingin menggelitik napak tilas jernihnya air mengalir
dari kolam ke kolam, melewati jembatan eksotis yang bersahabat akrab dengan dedaunan
dan sejuknya awan-awan yang singgah di bumi Seuramoe Mekkah.
Seiring
bertaburan moment bersejarah yang hampir lekang oleh perhatian zaman, ternyata
masih ada anak negri yang menggali khazanah budaya. Bahkan aku sendiri hampir
terlena tentang gagapnya pengetahuan warisan budaya. Mungkin aku hanya lidi
yang layu tanpa orang-orang seperti mereka yang saling terus mengingatkan
Tahukah
kita, saat peletakan batu pertama, ada siapa aja? (saya gak tahu juga soalnya, hhe), ukiran kokohnya bangunan
menandakan bukti kehidupan yang merindukan negri tempat tinggal di negri jiran,
Pahang Malaysia. Dapatkah kita membayangkan begitu besarnya kegigihan kharismatik
Iskandar Muda saat itu, kini terpahat cintanya di detail ukiran taman, bangunan-bangunan,
dan gunongan yang hangat menghiasi perjalanan jelajah budaya kita dengan sejuta memori
tak terlupakan.
Salut dengan
kreatifitas dan kekompakan anak negri, dengan segala kemampuan, diupayakan
berbagai event yang diadakan di taman Putroe Phang, berharap taman ini semakin
mempesona mata dunia. Menghiasi kedipan budaya yang manja untuk dilestarikan.
Saat ini, ada jutaan mata bahkan lebih, terpahat pesona taman ini, mengangumi
kelincahan anak sanggar berlatih menari, ditemani awan yang datang dan pergi. Aceh Lon Sayang...! Lopeyu full...! Keindahanmu mengalihkan duniaku...
Bersambung... ^^