Senin, 12 Mei 2014

Andai Awan dan Kejora



Puisi Rindu Meng-udara



Andai awan                        dan kejora tahu
Aku   rindu   satu  sosok  manusia yang bercerita pagi ini
Hampir   lima   belas  tahun   tak   menyapanya  bertemu   di sini
Aku   rindu   kedipan itu  menyapaku, bahkan boneka sapu tangannya
yang setia  menemani dan menghiburku, menjadi penguat ketulusan.
Dia  mengajakku memaknai hidup ditengah asingnya fatamorgana,
mendengarkan     setiap     bait    impian   yang    belum   tercapai
bertanya   bagaimana    hari    ini,     lusa,     dan   seterusnya.
Aku rindu tawanya.    Bahkan    sekalipun keriput itu ada.
Dia tetap cantik. Berharap selalu ada di sampingnya.
Saat-saat hanya ada dia yang mengerti
Di  tengah kelemahanku,
kepolosan dan kebodohanku,
AKU RINDU NENEK.
I miss you....



















Kamis, 08 Mei 2014

Terpahat Pesona Putri Pahang




Terpahat Pesona Putri Pahang
    
        Keanggunan paras dan hati Sang Putri (dari negri seberang, Malaysia), mengayunkan awan cinta Paduka Raja Iskandar Muda untuk berlabuh padanya, dan Kutaradja menjadi saksi bisu, tertegun diam seribu bahasa mengukir jejak-jejak cinta dua anak manusia.
        Jauh sebelum kita terpatri mencintai kota ini, bumi Nanggroe Aceh Darussalam yang saat ini kita pandangi, telah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam. Disaksikan langit dan bintang, sang Putri dan Kutaradja pun telah lebih dulu bersahabat dekat, hingga beliau dikenal dengan sebutan Putroe Phang, yang berarti Putri dari kerajaan Pahang.
        Ternyata tak hanya sebatas namanya yang mencair dengan lika-liku kehidupan singgasana saat itu, bahkan kharisma Iskandar Muda yang mendampingi kekasih hati permaisuri tercinta, tertohok membuktikan cintanya dengan menghiasi hari-hari Putri yang rindu akan negrinya, dengan mendirikan sejumlah bangunan yang  hampir mirip dengan arsitektur dari negri Pahang, seperti Taman Putroe Phang, Gunongan sebagai tempat bermain Putri ditemani dayang-dayang.
        Kalau kita pernah mendengar kisah Adam dan Hawa, Sulaiman dan Balqis, Rasulullah dan Khodijah, Nobita dan Shizuka, serta masih banyak lagi yang lainnya yang menggetarkan jiwa dan meneteskan air mata, kali ini ada yang berbeda dengan romansa cerita Iskandar Muda dan Putroe Phang.
        Seiring bertaburan moment bersejarah yang hampir lekang oleh perhatian zaman, ternyata masih ada anak negri yang menggali khazanah budaya. Bahkan aku sendiri hampir terlena tentang gagapnya pengetahuan warisan budaya. Mungkin aku hanya lidi yang layu tanpa orang-orang seperti mereka yang saling terus mengingatkan
        Terharu anak negri dapat melihat langsung bangunan kokoh bukti cinta mereka, ingin rasanya bertanya langsung pada dinding-dinding yang berdiri tegar meski tertiup angin, panasnya terik, dan dinginnya rintik-rintik yang menghampiri. Ingin rasanya segera mewawancarai rumput-rumput yang bergoyang, yang pastinya merindukan suasana yang dulu pernah ada. Dan ingin menggelitik napak tilas jernihnya air mengalir dari kolam ke kolam, melewati jembatan eksotis yang bersahabat akrab dengan dedaunan dan sejuknya awan-awan yang singgah di bumi Seuramoe Mekkah.
        Seiring bertaburan moment bersejarah yang hampir lekang oleh perhatian zaman, ternyata masih ada anak negri yang menggali khazanah budaya. Bahkan aku sendiri hampir terlena tentang gagapnya pengetahuan warisan budaya. Mungkin aku hanya lidi yang layu tanpa orang-orang seperti mereka yang saling terus mengingatkan
        Tahukah kita, saat peletakan batu pertama, ada siapa aja? (saya gak tahu juga soalnya, hhe), ukiran kokohnya bangunan menandakan bukti kehidupan yang merindukan negri tempat tinggal di negri jiran, Pahang Malaysia. Dapatkah kita membayangkan begitu besarnya kegigihan kharismatik Iskandar Muda saat itu, kini terpahat cintanya di detail ukiran taman, bangunan-bangunan, dan gunongan yang hangat menghiasi perjalanan jelajah budaya kita dengan sejuta memori tak terlupakan.
        Salut dengan kreatifitas dan kekompakan anak negri, dengan segala kemampuan, diupayakan berbagai event yang diadakan di taman Putroe Phang, berharap taman ini semakin mempesona mata dunia. Menghiasi kedipan budaya yang manja untuk dilestarikan. Saat ini, ada jutaan mata bahkan lebih, terpahat pesona taman ini, mengangumi kelincahan anak sanggar berlatih menari, ditemani awan yang datang dan pergi. Aceh Lon Sayang...! Lopeyu full...! Keindahanmu mengalihkan duniaku...

Bersambung... ^^